Pengiriman Pertama via Kapal Laut ke Nabire, Papua

20130111_152227

Pada malam saat langit tak berhenti menangis, saya menyiapkan waktu..menaruhnya di sebuah meja kecil untuk mengalaskan laptop, lalu mulai mengetik. Kata – per kata, muncul kalimat yang menjelma arti.

20130111_152647

Ini pengiriman pertama kami, dimana buku – buku yang terkumpul antara lain kiriman dari beberapa donatur penyumbang buku, antara lain mba @tiastanka atau istri dari penulis terkenal Gola Gong (penulis balada si roy) , lalu ada @rumahbacapanter yang menyumbang 500 buku, dan sisanya adalah buku dari saya sendiri @dayurifanto dan @hadi_priyo.

@hadi_priyo

Tak genap 1000 memang, hampir. Akan menjadi seribu jika digabung dengan buku – buku yang telah dikirim oleh seorang kawan di Kediri yang juga tergerak hatinya untuk membantu kami. Ada 8 kardus buku yang akhirnya terpacking dengan rapi dan siap dikirim ke Nabire, untuk mensupport perpustakaan mandiri di Nabire, yaitu Perpustakaan Mandiri kawan – kawan dari Majalah Selangkah yang akan dikelola oleh sabahat kami saudara Longginus Pekey dan juga Leni Irawaty, Wendi Eko pegiat @bukuntukpapua di Nabire. Yang telah bersedia untuk juga menampung buku – buku kiriman dari kami dan akan dikelola agar bisa dibaca oleh semua orang yang ingin membacanya.

Kami mengucapkan terimakasih kepada banyak pihak yang telah membantu pada pengiriman ini, semoga langkah kecil ini akan diikuti                              langkah – langkah lain, pengiriman – pengiriman lain sehingga visi kami : akses buku bagi semua di Papua, dapat tercapai. Mengingat segala keterbatasan kami, kami mohon bantuan support dari rekan semua. Terimakasih juga kepada kawan – kawan yang selalu dengan semangat menyebarkan informasi gerakan ini ke khalayak banyak : ada @duwiry @marmulia_s @marcokilima @idaayum @arie7rose @bidarani @anthysalam @umbu_aq @hadi_priyo @MarthenGoo @selangkahonline @tweet_atika @andipanaungi @triputramayor dan yang lainnya yang mungkin tidak bisa disebutkan satu persatu.

Sebuah buku, bangkitkan Papua !

@bukuntukpapua

Support dari @rumahbacapanter

20121216_122917

“We learn from yesterday, live for today and hope for tomorrow” – Albert Einstein.

Siang terik, panas campur aduk dengan angkot – angkot yang saling berebutan masuk ke dalam areal terminal depok, gerah, mata jadi terasa pedas. Ada dua jalur untuk masuk ke terminal depok, jalur pertama bisa membawa Anda sampai ke halaman belakang terminal, mengarah ke stasiun kereta depok, dan jalur dua akan mengantar Anda sampai ke pangkalan bis menaikan penumpang. Di jalur dua itulah, di depan pangkalan bis – bis menaik turunkan penumpang berdiri @rumahbacapanter, tempat yang kami tuju, kawan – kawan yang mau support kami dengan buku.

PANTER, adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang didirikan olehH.Agus Kurnia. PANTER atau Paguyuban Terminal merupakan induk organisasi dari belasan paguyuban-paguyuban kecil yang ada diterminal Depok. Paguyuban-paguyuban kecil ini kerap kali menimbulkan konflik, sehingga H. Agus atau kerap disapa Abah Agus, berinisiatif menyatukan mereka kedalam sebuah Induk organisasi bernama PAGUYUBAN TERMINAL atau yang lebih dikenal dengan nama PANTER DEPOK.

PANTER yang dalam misi utamanya membangun lingkungan terminal yang santun, berhasil menekan perilaku premanisme, aksi kejahatan dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang hidup didunia hitam.

 “Ambil yang kanan apa yang kiri nih masuk ke terminalnya” kata @priyo_hadi seorang teman dari drop off @bukuntukpapua bsd yang menemani kami, sebenarnya menyupiri kami. Tidak biasa, karena buat apa kami bawa mobil pribadi masuk sampai ke dalam terminal jika tak ada kepentingan mendesak, penting. Kami sedang menjemput buku, ya menjemput. Kawan dari @rumahbacapanter siang itu, mensupport gerakan pengumpulan buku yang kami gagas dengan memberikan kurang lebih 500 buku pelajaran dan ada dua buku istimewa : komik tentang tokoh HAM Munir.

Saya, @gamma_heart dan priyo_hadi salah ambil jalur, kami parkir jauh di belakang terminal, tanya satu kali dimana letak @rumahbacapanter langsung di kasih petunjuk yang tepat oleh ibu penjual rokok.

Ada sebuah bilik kecil, mungkin berukuran 3×3, penuh dengan susunan buku, ada sarung biola – yang ternyata untuk dipakai melatih anak jalanan oleh teman – teman relawan @rumahbacapanter – dan ada seorang pemuda, sedang menunggu kami, disampingnya ada anak kecil usia 2-3 tahun yang sedang tidur lelap : ternyata dialah @andivox, begitu kami mengenalnya via twitter, perkenalan singkat tapi berbekas dalam, @andivox tunggu kami walau kami telat hampir setengah jam, dan katanya seharusnya ramai, tapi kawan – kawan @rumahbacapanter sedang ada acara lain, tak bisa menunggu terlalu lama.

20121216_122041

Adalah Andi Malewa, seorang sarjana Teknik lulusan Universitas Pancasila Jakarta sejak masih berstatus mahasiswa, (2007) Andi (sapaan akrabnya) telah bergabung dengan PANTER sebagai aktivis sosial. Pada mulanya, H.Agus dan Andi lebih giat beraktivitas diluar terminal, dimana pada saat itu Andi ditugaskan sebagai humas eksternal PANTER yang ditugaskan untuk membangun komunikasi dengan kawan-kawan media, membangun jaringan komunikasi dengan masyarakat luar dan tugas-tugas kemasyarakatan lainnya diluar lingkungan terminal.

 Setelah melalui proses sosialisasi dan pembahasan yang panjang, suatu waktu H. Agus Kurnia meminta Andi untuk segera membuat sebuah taman bacaan diareal taman Terminal Depok. Namun dalam perencanaannya, Andi melihat banyak hal yang akan menjadi kendala untuk mendirikan taman bacaan di areal taman terminal, mengingat perizinan lahan akan sulit dan dibutuhkan pula banyak biaya didalamnya.

Hingga pada 20 November 2011, Andi Malewa yang saat itu sudah diangkat menjadi Ketua Divisi Eksternal PANTER, menyatakan kesiapannya untuk membangun sebuah Rumah Baca Gratis bagi warga terminal Depok. Bermodalkan sebuah ruangan kosong bekas kantor agen bus dideretan bangunan permanen didalam Terminal Depok, Andi mendeklarasikan keinginannya tersebut dalam rapat internal PANTER. Deklarasi kecil ini merumuskan sebuah nama untuk rumah baca yang akan dibangun yang hingga detik ini dikenal dengan nama : RUMAH BACA PANTER, Andi, dibantu beberapa rekannya, Juni Ulfa, Yoga Wirotama, Denty Apriliani, Frezka Fikri dan Alicia Maria (yang hingga saat ini menjadi pengurus tetap), dengan lantang menyuarakan perjuangan mereka untuk menggalang dukungan baik moril dan materil guna mewujudkan sebuah rumah baca GRATIS bagi warga terminal Depok melalui media sosial berjejaring twitter dan facebook. Memang tidak mudah meyakinkan orang-orang luar akan mimpi ini, akan tetapi semangat dan kerja keras Andi dan kawan-kawan mendapat sambutan positif dari “masyarakat twitter“.

Gayung pun bersambut, buku-buku berdatangan dari seluruh penjuru, dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Kalimantan bahkan pengguna twitter diujung timur negeri ini pun ikut membantu Andi dan kawan-kawan menciptakan sebuah ruang pustaka gratis bagi masyarakat terminal depok. Dengan visi “menciptakan lingkungan masyarakat yang santun dan cerdas” Andi dan kawan-kawan menjalankan misi membantu pemerintah dalam memberantas buta aksara dan memberikan pengetahuan secara Gratis bagi Supir, Kernet, pedagang asongan, pengamen dan anak jalanan.

Selengkapnya sobat bisa baca dihttp://rumahbacapanter.wordpress.com/

Kami janjian bertemu dengan @andivox karena akan disupport buku sejumlah 500 buku pelajaran untuk didistribusikan dan support sahabat @bukuntukpapua yang akan membangun perpustakaan di Papua.

20121216_122639

 Buku – buku ini akan disitribusikan ke perpustakaan – perpustakaan mandiri di Papua, dan semoga support dari kawan – kawan @rumahbacapanter akan berlanjut dengan support dari kawan – kawan, sobat lain untuk bersama kami mengumpulkan buku dan kirim ke Papua. Karena kami membayangkan betapa menyenangkannya jika anak, remaja dan dewasa bisa membaca, tersenyum sembari bermain dan belajar di perpustakaan – perpustakaan mandiri yang ada di Papua, seperti semangat dan senyum ceria yang kami lihat dirumah baca panter siang itu.

ayo kawan, tentukan dirimu mau membantu kami, atau membiarkan informasi ini lewat begitu saja, tapi kami yakinkan bahwa kami sudah bisa melihat anak – anak, remaja dan dewasa di Papua tersenyum manis sembari membaca banyak buku..lalu saling bantu, saling ajar supaya menjadi lebih baik, mari pegang tangan, sinergi..ingat sebuah buku, bangkitkan Papua.

Terimakasih kawan – kawan @rumahbacapanter dan @andivox..atas buku dan inspirasinya.

Ini aksiku, mana aksimu !!

Sebuah buku, bangkitkan Papua

Salam hormat

@bukuntukpapua

Sekali lagi, ini oleh – oleh tulisan @bukuntukpapua saat berkunjung ke @rumahbacapanter,terimakasih kawan, terimakasih sobat..mari bergerak

Ini aksiku, mana aksimu

Sebuah buku, bangkitkan Papua

Awal Perjalanan

Halo Kawan,

The journey of a thousand miles begins with a single step.” ― Lao Tzu

Perjalanan sejauh apapun dimulai dari langkah pertama, kata seorang guru besar bangsa cina Lao Tzu. Ini akan jadi cerita langkah pertama sebuah perjalanan panjang dari gerakan yang kami buat, mengumpulkan buku, media, mainan edukatif untuk disumbangkan ke Perpustakaan Mandiri di Papua.

Untuk meningkatkan kualitas SDM, diawali dengan membentuk pola pikir. Pola pikir yang baik dapat terasah dari pendidikan, baik formal maupun nonformal. Pola pikir juga bisa terbentuk dari adanya minat baca yang tinggi dan tersedianya bacaan yang sesuai. Membaca merupakan salah satu ikhtiar membangun sebuah bangsa yang besar. ( Ari Zuntriana, Pustakawati Perpustakaan UIN Maliki, Malang, Jawa Timur, dalam kompas.com, Senin, 17 Mei 2010 | 18:15 WIB, Nasib Perpustakaan Daerah menulis )

Saat membaca hal ini, rasanya tersentak apalagi saat kami coba bertanya dan browsing tentang fenomena buku di tanah Papua, seperti yang terekam dalam salah satu berita di bawah ini :

Pimpinan Toko Buku Gramedia Cabang Kota Jayapura, Yakobus M mengungkapkan, bahwa penjualan buku di Papua termasuk yang paling mahal di Indonesia. Hal ini karena ekspedisi atau jasa pengiriman yang sangat mahal. Bahkan jasa pengiriman terkadang lebih mahal dibanding dengan harga buku itu sendiri.

Selaku pimpinan Toko Buku Gramedia yang sudah berdiri selama tujuh tahun di Kota Jayapura – Papua ini, ia mengaku merasa prihatin dengan masyarakat di Papua. Hal ini dikarenakan minat baca anak – anak di Papua, dimana peningkatannya cukup sedikit atau masih rendah. Karena faktor harga yang terlalu mahal. “Padahal kita masih di dalam kota. Bagaimana dengan yang ada di pedalaman,” ucapnya ( dalam berita http://bintangpapua.com/headline/27160-ongkos-kirim-lebih-mahal-dari-harga-jual-buku )

Buku memang bukan beras dan tidak termasuk sembilan kebutuhan bahan pokok. Kekurangan buku pastilah tak membuat rakyat kelaparan. Kekurangan produksi buku, juga tak membuat rakyat turun berdemo di jalanan. Kenaikan harga buku juga tak memusingkan pemerintah. DPR tak perlu bersidang khusus untuk urusan buku. Pemerintah juga tak merasa perlu mengatur tata-niaga buku agar harga buku terjangkau oleh rakyat. Toh, tak ada buku, tak membuat rakyat mati. ( tulis Isson Khoirul di http://media.kompasiana.com/buku/2011/05/21/hari-buku-nasional-700-toko-buku-3700-perpustakaan-tak-cukup-untuk-10-juta-pecinta-buku )

Tapi rasanya diam juga bukan cara yang bijak untuk menyikapi persoalan yang seperti ini, oleh sebab itu kami buat gerakan pengumpulan ini, cara membantunya mudah saja, kami akan update-kan dalam blog ini, drop – off atau tempat yang merupakan jejaring kami kumpulkan buku ini, untuk sementara tempat / titik pengumpulan ada di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang menyusul kota yang lain alamatnya akan kami update di posting selanjutnya. Sedang perpustakaan mandiri di Papua akan kami update kan juga dalam blog ini, yang pasti pilot project ini akan support perpustakaan yang akan dibangun di nabire dan di asmat – merauke menyusul perpustakaan – perpustakaan yang lain.

Kalau teman-teman tergerak boleh kontak kami di 081222967475 atau email ke bukuntukpapua@gmail.com atau bisa follow twitter kami di @bukuntukpapua

Sebuah buku, bangkitkan Papua

@bukuntukpapua