Bergerak Kawan

Mix-Pack-8 (59)

Semangat Sobat

Mau bantu sesuatu untuk bikin sebuah perubahan ?

Mau berbuat sebuatu tapi bingung harus ngapain ?

Eh gampang saja sobat, jika kamu ada buku – buku tak terpakai atau sudah terbaca dan cuma berbaris manis berdebu di rak – rak bukumu, ingat buku itu berhenti bermanfaat. Lalu apa yang harus kamu lakukan ?

Kamu bisa membantu kami dengan menggerakan gerakan @bukuntukpapua di kotamu untuk menjadi drop off buku – buku sumbangan yang ada di kotamu, ingat sebuah hal kecil tetapi berdampak besar bisa kamu lakukan dari rumahmu, ya dari kotamu. Ayo sobat bergerak, jangan menunggu, buatlah perubahan yang kamu inginkan karena gerakanmu berarti, dan ingat sebuah buku berjuta arti, sebuah buku bangkitkan Papua

Atau, kamu bisa saja langsung menyumbangkan bukumu dengan melihat daftar drop off kami yang ada di tempat mengumpulkan buku disini masing – masing dengan kontak personnya, jadi kamu bisa kontak mereka.

Loh lalu bukunya buat apa dan siapa  ?

Tenang saja sobat, bukumu akan kami kirimkan ke Papua, awalnya tujuannya adalah ke Nabire untuk membantu mensupport dua perpustakaan mandiri yang akan dibangun disana. Dan selanjutnya bukumu akan kami kirimkan ke Agats – Merauke dan akan kami berikan juga untuk mensupport sebuah Taman Bacaan Masyarakat Sufado di Manokwari – selanjutnya kami akan bantu sobat di Papua untuk mendirikan Perpustakaan dengan support bukunya dari gerakan ini.

Secara berkala, proses pengumpulan buku dan buku yang sudah diterima oleh masing – masing perpustakaan mandiri akan kami upload ke dalam blog ini, jadisobat yang sudah menyumbang akan tahu bukunya sudah ada di perpustakaan mana.

Kalau kamu tertarik membantu kami bisa email ke bukuntukpapua@gmail.com atau follow terus update di twitter kami di @bukuntukpapua.

Ingat, satu bukumu berguna

Sebuah buku, bangkitkan Papua

Salam

@bukuntukpapua

Awal Perjalanan

Halo Kawan,

The journey of a thousand miles begins with a single step.” ― Lao Tzu

Perjalanan sejauh apapun dimulai dari langkah pertama, kata seorang guru besar bangsa cina Lao Tzu. Ini akan jadi cerita langkah pertama sebuah perjalanan panjang dari gerakan yang kami buat, mengumpulkan buku, media, mainan edukatif untuk disumbangkan ke Perpustakaan Mandiri di Papua.

Untuk meningkatkan kualitas SDM, diawali dengan membentuk pola pikir. Pola pikir yang baik dapat terasah dari pendidikan, baik formal maupun nonformal. Pola pikir juga bisa terbentuk dari adanya minat baca yang tinggi dan tersedianya bacaan yang sesuai. Membaca merupakan salah satu ikhtiar membangun sebuah bangsa yang besar. ( Ari Zuntriana, Pustakawati Perpustakaan UIN Maliki, Malang, Jawa Timur, dalam kompas.com, Senin, 17 Mei 2010 | 18:15 WIB, Nasib Perpustakaan Daerah menulis )

Saat membaca hal ini, rasanya tersentak apalagi saat kami coba bertanya dan browsing tentang fenomena buku di tanah Papua, seperti yang terekam dalam salah satu berita di bawah ini :

Pimpinan Toko Buku Gramedia Cabang Kota Jayapura, Yakobus M mengungkapkan, bahwa penjualan buku di Papua termasuk yang paling mahal di Indonesia. Hal ini karena ekspedisi atau jasa pengiriman yang sangat mahal. Bahkan jasa pengiriman terkadang lebih mahal dibanding dengan harga buku itu sendiri.

Selaku pimpinan Toko Buku Gramedia yang sudah berdiri selama tujuh tahun di Kota Jayapura – Papua ini, ia mengaku merasa prihatin dengan masyarakat di Papua. Hal ini dikarenakan minat baca anak – anak di Papua, dimana peningkatannya cukup sedikit atau masih rendah. Karena faktor harga yang terlalu mahal. “Padahal kita masih di dalam kota. Bagaimana dengan yang ada di pedalaman,” ucapnya ( dalam berita http://bintangpapua.com/headline/27160-ongkos-kirim-lebih-mahal-dari-harga-jual-buku )

Buku memang bukan beras dan tidak termasuk sembilan kebutuhan bahan pokok. Kekurangan buku pastilah tak membuat rakyat kelaparan. Kekurangan produksi buku, juga tak membuat rakyat turun berdemo di jalanan. Kenaikan harga buku juga tak memusingkan pemerintah. DPR tak perlu bersidang khusus untuk urusan buku. Pemerintah juga tak merasa perlu mengatur tata-niaga buku agar harga buku terjangkau oleh rakyat. Toh, tak ada buku, tak membuat rakyat mati. ( tulis Isson Khoirul di http://media.kompasiana.com/buku/2011/05/21/hari-buku-nasional-700-toko-buku-3700-perpustakaan-tak-cukup-untuk-10-juta-pecinta-buku )

Tapi rasanya diam juga bukan cara yang bijak untuk menyikapi persoalan yang seperti ini, oleh sebab itu kami buat gerakan pengumpulan ini, cara membantunya mudah saja, kami akan update-kan dalam blog ini, drop – off atau tempat yang merupakan jejaring kami kumpulkan buku ini, untuk sementara tempat / titik pengumpulan ada di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang menyusul kota yang lain alamatnya akan kami update di posting selanjutnya. Sedang perpustakaan mandiri di Papua akan kami update kan juga dalam blog ini, yang pasti pilot project ini akan support perpustakaan yang akan dibangun di nabire dan di asmat – merauke menyusul perpustakaan – perpustakaan yang lain.

Kalau teman-teman tergerak boleh kontak kami di 081222967475 atau email ke bukuntukpapua@gmail.com atau bisa follow twitter kami di @bukuntukpapua

Sebuah buku, bangkitkan Papua

@bukuntukpapua