Seandainya ada perpustakaan daerah maka saya adalah pengunjung setianya.

Seandainya ada perpustakaan daerah maka saya adalah pengunjung setianya.

 

Jika ngidam sebuah buku,maka buku itu akan saya bawa kemanapun. Seperti kejadian beberapa waktu lalu, saya membaca buku di taksi, saking serunya sampai senyum-senyum sendiri. Saya yakin orang yang duduk di sebelah pasti mengganggap saya aneh, hehe. Ya begitulah kalau sudah “ngidam” buku. Di ruang guru pun sambil menunggu jam mengajar saya selalu usahakan membaca buku.

Seandainya di kota sorong ada perpustakaan daerah maka mungkin saya adalah pengunjung setianya. Seperti ketika dulu kuliah di Jayapura, perpustakaan daerah di Kotaraja menjadi tempat favorit. Setiap ada waktu luang, pasti berkunjung ke sana walau harus jalan kaki dari Padang Bulan ke Kotaraja. Ada banyak buku yang sedang menunggu antrian untuk saya, sekarang saya lagi membaca buku – buku teknis komputer tentang mengoperasikan MS Words dan Excel, juga buku – buku photoshop, karena saya suka mengedit – edit foto. Semua buku ini saya beli sendiri di Gramedia Sorong, cukup lumayan uang yang harus dikeluarkan, hampir Rp.800.000,-, ini seperti harta buat saya, buku – buku ini.

Waktu SD di tahun 90-an, ada sebuah toko buku di depan toko Hanseng HBM, kalau tidak salah ingat. Saya suka memaksa Bapa untuk menemani saya ke toko buku itu, dan buku – buku anak tetang puteri kerajaan yang suka saya beli, jadi senyum – senyum sendiri mengingat kembali hal ini. Dongeng paling saya sukai, karena sering didongengi Mamatua sebelum tidur. Beliau suka cerita tentang kisah puteri dan pangeran. Dan ini yang membuat saya jadi menyukai buku cerita anak dengan genre fantasi.

Penulis yang disukai ? wah, RL Stine, buku-buku ceritanya yang dengan tema misteri sangat menarik. Kalau membaca buku itu, saya baru beranjak kalau sudah selesai baca bukunya. Dia pandai membuat pembaca masuk ke dalam cerita, rasanya setiap usai membaca bukunya, saya merasa ada kepuasan batin tersendiri. Saya juga ingin sekali bisa bertemu Aprila Wayar, mengapa ? Karena dia adalah salah satu penulis perempuan Papua dan saya juga baru saja membaca novelnya yang berjudul “Dua Perempuan”, dengan Jayapura sebagai latar, tempat – tempat yang tidak asing untuk saya. Saya menunggu karya – karya Aprila selanjutnya. Bangga sekali ada penulis dari Papua dan semoga ke depannya, lahir penulis – penulis Papua berbakat lainnya.

Saya percaya membaca bisa mengubah orang. Kita dapat mempengaruhi orang lain tidak saja melalui kata-kata namun juga lewat tulisan kita. Orang yang membaca tulisan kita kan secara otomatis membaca opini kita atau pandangan kita tentang sesuatu. Saya ingat, ada satu buku yang saya baca yang berjudul “Mencintai Hidup” yang ditulis oleh Victoria Osteen. Buku ini saya baca berulang kali, karena pada awalnya saya tidak suka mendengar orang lain, saya lebih suka didengarkan. Dalam buku itu ada satu bagian yang mengatakan bahwa kita harus menjadi pendengar yang baik,mendengar bukan sekedar mendengar namun mendengar dengan perhatian. Karena itu adalah salah satu bentuk perhatian kita kepada orang-orang di sekeliling kita. Di tahun 2013, selepas membaca buku itu berulang kali, saya merasa diri ini menjadi sedikit berbeda, saya mulai berusaha mendengar dengan penuh perhatian apa yang disampaikan orang lain, dan menunjukkan kepedulian saya dengan bertanya tentang apa yang menjadi cita-cita atau impian seseorang serta langkah-langkah apa saja yang ditempuh untuk mencapai mimpinya itu.

Agar suka membaca, saya sendiri berusaha menemukan gairah akan buku tersebut, sehingga buku itu membuat saya ingin membacanya, yang kedua sisihkan uang untuk membeli buku dan yang ketiga buat target membaca buku, sisihkan waktu untuk melakukannya. Saya sendiri merasa wajib tiap bulan saya harus baca 1 buku biografi dan buku rohani.

**

Tentang Siska Safisa
Lulusan Universitas Cenderawasih dengan jurusan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini lahir di Jayapura. Saat ini bekerja sebagai tenaga pendidik di SMP Negeri Satap Malagubtuk Distrik Klayili Kabupaten Sorong. Selain mengajar secara formal di Sekolah, ia juga mendirikan dan mengelola rumah baca yang ia namakan ‘Rumah Gaba” yang berada di kampung Malagubtuk. Keseharian selain mengajar di sekolah, ia disibukkan mengajar anak-anak usia 5- 8 tahun di rumah baca yang berlangsung dari hari Senin hingga Kamis pukul 18.00 -20.00 WIT.

Kunjungi Rumah Gaba di sini https://www.facebook.com/rumah.gaba dan ini https://www.instagram.com/rumahgaba/

GemarMembaca72

Ada cinta yang akan selalu mengingatkanmu akan buku yang kau sukai.

52708461_2066333490082344_5971202802955845632_n

Pada seorang gadis nan enerjik ini, ada kagum membuncah rasanya. Ia bernama Nurdana R Pratiwi atau biasa dipanggil Tiwi, dan berasal dari Raja Ampat. Pada kumpulan pulau – pulau nan cantik dan memesona itu, ia habiskan waktu sekolah sedari SD sampai SMA. Kemudian ia melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta, tepatnya di UIN Sunan Kalijaga. Selepas lulus kuliah dan kembali ke Raja Ampat, ia memilih berjualan Ice Blend, sebuah bisnis waralaba untuk menambah pundi – pundi rupiah “anak muda Papua itu bisa berusaha dengan berwirausaha”, ujarnya.

Selain menjadi entrepreneur, Tiwi juga anggota Pengurus Hari – Hari Besar Islam atau PHBI, tidak hanya itu, bersama teman – teman alumi SMA, Tiwi membentuk komunitas Lentera Negeri Bahari (LNB), sebuah komunitas yang fokus kegiatannya di bidang pendidikan dan sosial. Nah kira – kira apa saja kisah Tiwi, komunitas serta buku – buku yang ia senangi, simak dalam wawancara kami berikut ini.

Apa ada buku yang sedang dibaca bulan ini ?

Oh iya ada. Karena ini awal tahun, saya berniat untuk memperbaiki kebiasaan membaca yang terseok-seok ini. Sekarang lagi baca dua buku, yang satu novel, lainnya buku motivasi. Novel tetralogi “Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan” karya Tasaro GK ini membuat saya penasaran, bagaimana sang penulis mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bentuk novel. Membaca novel ini seperti kita diajak berkeliling dari satu negara ke negara lain di dunia, seolah penulis memasuki setiap sudut kota persia sampai Arab. Ada rasa seru, tapi belum selesai dibaca sih. Hehe.

Buku kedua yang sedang saya baca adalah “Terapi Berpikir Positif” yang ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky, sesuai judulnya, buku ini lebih banyak mengupas tentang kekuatan daya pikir manusia. Alasan membaca buku ini, karena saat ini saya merasa perlu afirmasi positif terhadap diri sendiri, merenungi setiap keputusan-keputusan, tanggung jawab, evaluasi tahun kemarin, aduh kok jadi berat begini ya sepertinya, tapi ini belum selesai dibaca juga. Hehe

Boleh cerita tentang kecintaan membaca itu sejak kapan dan apa saja kisah menariknya ?

Nasib saya sepertinya sama seperti anak Papua pada umumnya, waktu SD itu keinginan membaca ada, cuma karena minimnya buku jadi ya aktivitas membaca itu menjadi asing. Masih ingat dulu sering diajak bapak ke kantor distrik, masuk ke gudang dan mencari buku-buku yang menarik dari tumpukan buku-buku berdebu. Mulai suka membaca lagi saat SMA, suka sama tulisan-tulisannya Kang Abik, juga Andrea Hirata. Tapi ya, lagi-lagi masih terbatas. Di perpustakaan sekolah buku-buku bacaan yang tersedia terbatas, lebih banyak buku pelajaran.

Oh iya, saat kelas satu SMA ada kegiatan pesantren kilat di sekolah yang diadakan sama mahasiswa STID Muhammad Natsir saat itu, kegiatan ini mempertanyakan banyak hal, dan ruang – ruang diskusi yang hidup itu memantik rasa ingin tahu, semangat membaca itu muncul kembali dan ada buku – buku yang direkomendasikan utuk dibaca juga yang dipinjamkan oleh mereka. Ini sepertinya sebuah permulaan kembali, awal mula menyukai buku.

“Ruang – ruang diskusi yang hidup itu memantik rasa ingin tahu, semangat membaca itu muncul kembali”


Kalau misalnya punya kesempatan bertemu dan belajar dari seorang penulis ?

Wah ini pertanyaan sulit, saya mau bertemu siapa ya ? Dulu saya menyukai Kang Abik. Hampir semua bukunya sudah saya baca, dan sudah bertemu, tapi saat itu tidak berkesempatan bertanya. Jadi kalau diberi kesempatan bertemu penulis, rasanya bukan lagi Kang Abik, tetapi ingin bertemu dan berdiskusi dengan Andrea Hirata.

Sebagian novel Andrea Hirata pun sudah saya baca. Sepertinya beliau punya banyak cadangan senjata untuk mengeksplorasi Belitung dalam cerita yang seolah tak habis – habis. Menurut saya, beliau penulis yang terkenal tetapi bersahaja. Pilihan hidup sederhana dan tujuan kebermanfaatan dari setiap karyanya yang bikin siapa pun ingin duduk dan mengobrol banyak dengannya, terlebih saya.

Oh iya, kalau bicara soal buku yang paling berkesan, ada kah ?

Ada dong, ada buku dengan judul “Dari Puncak Baghdad”, yang ditulis oleh Tamim Anshary. Mengapa begitu berkesan ? Setelah membaca buku ini membuat otak saya bertanya dan sekaligus meragukan banyak hal. Ini salah satu buku yang cukup mempengaruhi saya saat itu, sampai harus mencari beberapa buku perbandingan tentang tema yang sama sebagai konfirmasi. Buku ini membuat benang merah pertemuan antara sejarah peradaban Islam dan peradaban Barat. Mulai dari zaman Iskandar Muda sampai kehidupan para filsuf di Barat. Menariknya, Tamim Anshary menulis buku ini seperti sedang mengobrol dengan pembaca. Ia menulis dengan luwesnya membuat saya betah membacanya, dan pandangan orentalismenya begitu kental mempengaruhi gaya penulisan bukunya ini.

Buku kedua yang saya sukai dan berkesan betul adalah dari penulis cum jurnalis Leila S Chudori, yaitu pada novelnya dengan judul : Pulang. Novel apik ini, mempunyai penulisan dan tata bahasanya yang enak, dan membacanya membuat saya bersyukur diberikan kesempatan hidup di Indonesia dengan kondisi yang lebih aman. Walau sebenarnya, setiap tindakan diskriminasi yang tidak adil masih diterima oleh beberapa kalangan saat ini. Dalam buku itu, kita bisa membaca bahwa mereka yang di Praha, hanya bisa merindukan Indonesia tanpa bisa mencium aroma tanah lahirnya lagi. Itu menyedihkan sih. Persisnya, saya hampir menangis setiap membaca surat Kenanga untuk Dimas Suryo. Bercerita tentang Indonesia dan hukuman mati yang harus diterima oleh bapaknya. Hal lain dari novel ini adalah filosofi kehidupan setiap tokohnya, yang membuat kita sebagai pembaca merenungi banyak tujuan dan alasan-alasan menjalani kehidupan.

Saya juga ingin menambahkan, saya percaya kalau buku itu mengubah seseorang. Karena seseorang itu dipengaruhi salah satunya dari buku yang dia baca. Saya pun demikian. Ketika kita banyak membaca, hal itu akan sangat memudahkan kita untuk menulis atau mengungkapkan apa yang kita rasakan. Saya merasa sangat terbantu karena punya kebiasaan membaca, terlebih ketika kuliah dulu. Sebab sepertinya nasib anak Papua yang kuliah dan merantau jauh dari kampung halaman, mirip seperti apa yang saya rasakan. Maksudnya itu, rasanya kita akan tertinggal jauh ketika bertemu dengan anak-anak yang lulusan sekolah di kota-kota besar, tetapi selalu ada cara untuk mengejar mereka, antara lain dengan banyak membaca mencari tahu banyak hal, mengikuti diskusi – diskusi, membincangkan buku – buku yang telah kita baca, mengikuti organisasi-organisasi yang melatih kita terus berpikir. Itu semua akan memberikan pengaruh pada kita, dan akan mempengaruhi cara berpikir kita. Semua itu akan terlihat ketika kita menyampaikan argumentasi atau presentasi di kelas.

“Selalu ada cara untuk mengejar mereka, antara lain dengan banyak membaca mencari tahu banyak hal, mengikuti diskusi – diskusi, membincangkan buku – buku yang telah kita baca, mengikuti organisasi-organisasi yang melatih kita terus berpikir”


Itu kalau buku, kalau aktivisme Tiwi dengan komunitas Lentera Negeri Bahari ?

Iya, Lentera Negeri Bahari itu dibuatnya bersama teman – teman alumni sekolah. Filosofinya, lentera itu penerang ketika gelap, cahayanya bukan untuk dirinya sendiri tetapi juga tempat sekitar. Kami ingin seperti itu, apa yang kita punya semoga bisa menjadi manfaat buat orang lain.

Kami punya keresahan yang sama, misalnya mengapa isu tentang Papua lebih banyak gerakan yang dibuat oleh orang-orang di Jawa, dan kami sebagai orang Papua lebih cenderung untuk menerima saja. Padahal harusnya kami yang besar dan tumbuh di tempat ini yang seharusnya lebih paham dan punya tanggung jawab untuk memberi yang terbaik. Seiring berjalan waktu, kami menemukan sasaran kegiatannya, yaitu di bidang pendidikan dan sosial. Untuk bidang pendidikan khususnya literasi kami bekerja sama dengan Setara atau Senat Raja Ampat ke beberapa kampung, gelar lapak buku dan membaca bersama anak-anak di kampung. Setelah membaca, biasanya kami mengajak anak – anak bercerita tentang isi bukunya atau kami pun menjelaskan tentang buku tersebut.

Minat baca anak-anak itu tinggi, tetapi karena terbatasnya buku bacaan berkualitas yang mereka punya, membuat mereka tak terbiasa menyukai buku. Dan sebenarnya yang peduli pada literasi di Raja Ampat itu banyak, baik perorangan maupun bentuknya komunitas, hanya saja belum ada irisan yang menghubungkan jejaring ini. Jadi saya juga berharap semoga kami bisa saling bersinergi dan mendukung.

Amin, semoga harapan baik ini bisa terwujud, bersinergi. Nah kembali lagi soal buku, apa pesan untuk calon pembaca buku lainnya terkait kesukaan membaca ?

Begini, beberapa waktu yang lalu saya menerima nasihat dari seorang kawan tentang semangat membaca. Mulai dengan tema-tema yang disukai, coba membaca beberapa lembar halaman setiap hari. Satu lembar ataupun dua lembar tidak masalah, yang penting konsisten. Atau buat waktu membaca lima menit, setelah lima menit silahkan tutup buku dan dilanjutkan besok. Ketika sudah terbiasa, lama kelamaan kita akan merasa butuh dengan membaca. Saya pun sampai sekarang sedang mempraktikkan itu kembali, karena beberapa waktu belakangan saya merasa jenuh dalam membaca.

Membaca novel adalah salah satu cara untuk memicu semangat membaca itu tetap ada. Sebab itu, sekarang saya membaca dua buku sekaligus. Novel sebagai pembakar semangat dan buku motivasi sebagai kebutuhan saya saat ini. Teman-teman pasti bisa ketika mencobanya. Tapi ya membaca itu melalui banyak media, tidak hanya buku. Membaca lingkungan sekitar, membaca alam, membaca online. Mulailah dari media mana yang kita sukai. Selamat membaca.

**
Tentang Nurdana Rizky Pratiwi
Entrepreneur Muda di Raja Ampat, impian besarnya bisa membuat sebuah bisnis sosial berkelanjutan di Raja Ampat yang bersinergi dengan banyak pihak. Menyukai buku dan mendengarkan deburan ombak (Bukuntukpapua/GemarBaca/DayuRifanto/Pitohabi)

#bukuntukpapua #anakpapuagemarmembaca #literasipapua #kolaborasibaik #gemarbaca #literasipapuabarat #gerakliterasi #terusbergerak #bakubantu #forumliterasisorongraya #kolaborasyik

Kakak yang menginspirasiku

Novalia Duwith GemarBaca@Bukuntukpapua - 71a

 

Perkenalkan, nama saya Novalia Duwit, biasa dipanggil Nova. Saya alumi FIB, jurusan Sastra Inggris Universitas Sam Ratulangi, saya sekarang ini mengelola Taman Bacaan Pustaka Anak Papua Wernas – Teminabuan.

Buku yang sedang saya baca saat ini yaitu buku dari penulis Daniel Coyle judul bukunya “The Talent code” yang diterjemahkan menjadi bakat sukses. Buku ini menceritakan tentang bakat-bakat yang diperoleh oleh seseorang dengan latihan lebih dan mengenal siapa pelatih yang melatihnya dengan tekun niscaya akan mengalami kesuksesan. Karena tanpa latihan yang lebih seseorang tidak akan berada pada puncak kesuksesan (dalam bukunya berbicara tentang latihan musik dan juga olahraga yang lain yang menjadi acuan untuk orang yang ingin sukses).

 

“Tanpa latihan yang lebih seseorang tidak akan berada pada puncak kesuksesan”

Ketertarikan pada buku ini disebabkan Coyle memberikan tips-tips yang begitu luar biasa dan membakar semangat saya secara pribadi. Ia sendiri seorang jurnalis yang telah turun langsung untuk melihat realita di lapangan dan menulis buku tersebut.

Saya memilih tempat yang hening untuk membaca, karena saya selalu berkonsentrasi penuh, untuk di rumah, berarti menunggu orang atau saat tidak ada kerjaan, saya akan pakai untuk membaca walau biasanya hanya mengulang apa yang telah saya baca, agar tidak lupa. Saya mulai menyukai membaca saat duduk di perguruan tinggi seingat saya saat semster 5. Saya terinspirasi oleh almarhumah kakak saya yang sudah menjadikan membaca itu lifestylenya. Melihat kebiasaan kakak itulah yang membuat saya bergabung di dunia perpustakaan di kampus dan ruang baca di jurusan. Walau saat itu membaca pun harus dipaksa, sebab masih fokus di hp terus hehe.

Saya menyukai Leo Tolstoy, karena membaca buku – bukunya membuat saya memilih novelnya untuk menjadi bahan penelitian saya saat Tugas Akhir kuliah.

Jika ingin memilih buku untuk dibaca saat ini saya akan memilih buku ” Kepemimpinan Ala SBY” saya lupa penulisnya. Dalam bukunya dikupas habis tentang kepemimpinan SBY. Dalam buku ini bercerita tentang bagaimana SBY mengambil keputusan-keputusannya yang begitu penting bagi rakyat Indonesia. Sebut saja waktu Tsunami di Aceh 2006 kala itu di bulan yang penuh hikmat bagi umat Nasrani bulan desember, beliau dan ibu Ani berada di Jayapura untuk mengikuti natal bersama di sana. namun sejak beliau mendapat berita tentang Tsunami yang melanda Aceh ia pun mengambil keputusan untuk berkunjung langsung bersama rombongan ke Aceh.

Membaca dapat mengubah seseorang – Novalia Duwit

Menurut saya membaca dapat mengubah seseorang mulai dari perilaku maupun cara berpikirnya dan itu pun saya rasakan sejak mulai menyukai buku. Banyak hal yang bisa saya pelajari dan aplikasikan ke kehidupan saya hanya lewat membaca. Pesan saya untuk semua yang saat ini sementara berjuang untuk mulai menyukai membaca ataupun yang mau jadi calon pembaca yaitu jadikan membaca itu kebiasaan yang tanpa sadar dari waktu ke waktu akan mengubah pribadi anda. Tetap semangat di awal karena di pertengahan kamu akan merasa nyaman.

Semangat terus membaca

Novalia Duwit
Pengelola Taman Bacaan Pustaka Anak Papua Wernas

#gemarbaca71 #novaliaduwit #tamanbacawernas #teminabuan #ceritainspirasi #bukuntukpapua

Pertama kali membaca buku sejak SD

Image may contain: 1 person , text

Ada beberapa buku yang paling saya suka yaitu 101 Hal-Hal Yang Harus Diketahui Para Pemimpin (John C. Maxwell), Ajaib dimata Kita (Dr.F.C.Kamma), 7 Rahasia Spiritual Menuju Sukses (Dr.Norman V. Peale). Saya tertarik membaca buku-buku ini karena banyak hal kepemimpinan yang dipelajari saat membaca. Sangat membangun dan banyak memberi motivasi dalam menjalani masa muda, sehingga tidak hanya sukses dalam studi tapi karir kedepan. Selain Itu buku Dari F.C.Kamma juga membuka wawasan tentang banyak hal di waktu lampau. Khususnya tentang Papua, dan waktu pertama kali injil masuk ke tanah Papua.

Pertama kali membaca buku sejak SD dan yang memberi pengaruh itu Bapak saya karena beliau juga gemar membaca & punya semacam perpustakaan pribadi di rumah. Setiap orang harus dibiasakan untuk membaca, mulai dari masa kanak-kanak. Jadi kalo Anak Papua gemar membaca itu akan berdampak sangat baik bagi masa depan. Bukan cuma anak itu sendiri tapi juga bagi bangsa Papua. Kalo menurut saya, saat ini anak Papua masih belum banyak yang gemar membaca. Kalaupun ada yang gemar sekali membaca, bisa dibilang perbandingannya 1 Dari 1000 orang. Hal ini yang menyebabkan SDM di Papua maasih sangat rendah. Gemar membaca tidak bisa di mulai dengan sendirinya, karena itu kita biasakan generasi anak Papua untuk membaca. Dengan membaca banyak hal yang bisa kita dapatkan, wawasan kita bisa menjadi luas dan banyak masalah yang mungkin dapat kita pecahkan sendiri melalui membaca.
Nama saya Fabiola Griffith Fegrisa Saroy. Saya putri asli Papua, dari pulau Moor.
Banyak orang belum tau pasti letak pulau ini, pulau moor di tempuh dari kota Nabire sekitar 2/3jam menggunakan motor laut. (Speedboat). saya lulusan Jinan University Guangzhou-China.

Membaca adalah Sebuah Petualangan Ajaib

Image may contain: 1 person , mountain, outdoor and nature

Pengalaman berkesan tentang membaca? rasanya untuk menjawabnya saja terlalu berkesan sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas, ada perasaan lain saat membaca, seperti ditarik masuk ke dalam buku yang sedang dibaca : ajaib.

Jika bercerita tentang buku favorit, maka buku itu adalah Ayat-Ayat Cinta [1]. Ini novel pertama yang pernah saya baca. Waktu itu saya masih SMP kelas 1, yang begitu tiba di rumah dari sekolah, makan siang dan segera setelah makan saya langsung baca buku novel itu, alhasil saya selalu dimarahi Mama, karena sebenarnya ada pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan eh malah saya habiskan dengan membaca hehe, ini jangan ditiru ya soalnya kita seharusnya bisa membagi waktu dengan pekerjaan lain apalagi kalau piring kotor lagi menumpuk.

Selain Ayat-Ayat Cinta, saya juga mengagumi karya-karya Andrea Hirata [2]. Saya bahkan tidak pernah melewatkan satu karyanya pun, mulai dari triologi Laskar Pelangi sampai dengan buku terbarunya yang berjudul Ayah. Sekarang saya sedang tertarik dengan buku/novel berlatar belakang sejarah seperti Amba [3], Pulang karya Leila S. Chudori [4] dan Cerita dari Digul. Kebetulan saya kurang suka dan kurang pandai menghafal tanggal dari cerita – cerita sejarah, nah lewat buku-buku berlatar belakang sejarah inilah saya lebih mudah belajar dan tahu peristiwa-peristiwa sejarah lengkap dengan “bumbu-bumbu” dari penulisnya. Kalau bicara buku favorit banyak mungkin dan akan semakin panjang ceritanya, jadi sekian dulu cerita soal buku favorit hehe.

Sejujurnya saya tidak ada darah atau keturunan Papua, selain yang saya tahu adalah nenek moyang saya orang Papua asli berasal dari kampung Arguni yang nikah dengan orang Maluku. Selain itu, saya sendiri lahir dari Ibu berdarah Jawa, dan Ayah yang berdarah Maluku. Selain itu, saya lahir dan besar di Kaimana, Papua Barat. Hal inilah yang sampai saat ini membuat saya merasa sebagai orang Papua, meskipun kalau ketemu dan melihat saya secara langsung, orang tidak pernah terpikir akan hal ini.

Sekarang saya kuliah di Yogyakarta, dan sambil kuliah saya dan beberapa teman membuat inisiatif bernama Papua Bercerita. Jadi mendokumentasikan cerita orang – orang Papua dan membagikan ceritanya melalui media sosial @PapuaBercerita. Tahun kemarin, kami sudah melakukan donasi buku untuk salah satu rumah belajar di Kaimana. Kami juga mengajar di salah satu SD disana, dan juga mengajar bahasa inggris (bimbel) di luar sekolah pada sore hari. Seperti inilah garis besar project sosial ini, yang akan berlanjut untuk ke depannya.

Pendapat saya tentang anak Papua yang gemar membaca: keren sekali, two thumbs up!! Menurut saya, anak Papua sudah seharusnya memang gemar membaca biar kita tidak tertinggal dengan anak-anak yang ada di kota besar. Supaya tidak ada lagi orang yang memandang sebelah mata kepada anak-anak Papua. Buktikan bahwa anak-anak Papua itu cerdas dan tidak kalah dengan anak-anak lain. Satu hal yang perlu diingat, bahkan anak-anak di kota besar pun tidak semuanya gemar membaca. Jadi, tidak ada kesimpulan bahwa anak-anak kota lebih bisa.

Dwi Fajar Suharjuly*

*Mahasiswi semester akhir pada jurusan Akuntansi S1 di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Selain belajar di kampus juga menginisiasi dan menjalankan project sosial “Papua Bercerita” sejak Februari 2015. Di project ini, Fajar dan seorang rekannya bernama Farah Amalia aktif mewawancara orang-orang Papua dan kemudian membagikan cerita mereka di facebook dan instagram @papuabercerita.

[1] Ayat Ayat Cinta adalah novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun2004 melalui penerbit Basmala dan Republika. Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi terlaris diIndonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahunhttps://id.wikipedia.org/wiki/Ayat-Ayat_Cinta

[2] Andrea Hirata adalah lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang kini masih bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang meledak penjualannya di Indonesia mengantarkannya mendapat penghargaan antara lain dari Khatulistiwa Literaly Award (KLA) pada tahun 2007, Aisyiyah Award, Paramadina Award, Netpac Critics Award, dan lain sebagainya. http://profil.merdeka.com/indonesia/a/andrea-hirata/

[3] Amba adalah novel karya Laksmi Pamunjak yang berkisah tentang masa kelam Indonesia tahun 1965, novel yang tidak berpretensi mengoreksi sejarah tetapi hanya ingin mencipta ulang sejarah dengan huruf s kecil, tentang kisah-kisah manusia biasa yang tidak tercatat. Tentang mereka yang tidak terlibat, tapi hidupnya berubah dilimbur arus sejarah. Novel ini mengantarkannya menjadi salah satu penulis yang ikut serta pada Franfurt Book Festival di Jerman dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris, Belanda dan Jerman http://www.dw.com/…/manusia-dalam-kemelut-sejara…/a-16601193

[4] Leila Salikha Chudori adalah penulis Indonesia yang menghasilkan berbagai karya cerita pendek, novel, dan skenario drama televisi.Leila S. Chudori bercerita tentang kejujuran, keyakinan, dan tekad, prinsip dan pengorbanan. Mendapat pengaruh dari bacaan-bacaan dari buku-buku yang disebutnya dalam cerpen-cerpennya yang kita ketahui dari riwayat hidupnya ialah Franz Kafka, pengarang Jerman yang mempertanyakan eksistensi manusia, Dostoyewsky pengarang klasik Rusia yang menggerek jauk ke dalam jiwa manusia. D.H Lawrence pengarang Inggris yang memperjuangkan kebebasan mutlak nurani manusia, pengarang Irlandia James Joyce, yang terkenal dengan romannya Ullysseshttp://www.goodreads.com/author/show/760524.Leila_S_Chudori

[5] Pulang adalah cerita tentang eksil yang tidak bisa kembali ke negerinya, menjadi orang bebas tanpa tanah pijakan. Lalu harus bertahan hidup di negeri sebrang sembari terus dihantui perasaan bersalah karena banyak kawan di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September.http://www.goodreads.com/book/show/16174176-pulang

#bukuntukpapua #GemarMembaca

Membaca dan berimajinasi

Image may contain: 1 person , people smiling , text, outdoor and nature

Nama saya Lenny Zilfa. Umur saya saat ini 23 tahun. Saya lahir dan besar di Jayapura, Papua. Saya sekolah mulai dari TK hingga perguruan tinggi di Jayapura. Latar belakang pendidikan perguruan tinggi saya adalah pendidikan bahasa Inggris. Saya sangat menyukai bahasa Inggris sejak SD. Saya pun gemar membaca buku berbahasa Inggris. Saya bercita cita melanjutkan S2 saya di luar negeri.

Kegemaran saya membaca buku sebenarnya dimulai bukan dengan buku bahasa Inggris. Saya mulai gemar membaca melalui sebuah majalah anak, majalah Bobo [1].

Waktu duduk di bangku SD, saya rutin memeriksa kesehatan saya di salah satu rumah sakit pemerintah di Jayapura. Karena rasa bosan menunggu pemeriksaan, saya suka membeli majalah bobo untuk dibaca. Majalah Bobo bukan hanya sekedar memberi cerita tapi ada pengetahuan umumnya juga. Saat itulah saya mulai gemar membaca.

Selain suka membaca buku berbahasa Inggris, saya juga suka membaca buku bahasa asing lainnya, buku cerita kisah nyata, motivasi, religi, biografi, novel, tentang pendidikan, dll.

Banyak manfaat yang saya dapatkan. Saya bisa mengenal bahasa asing baik bahasa Inggris maupun lainnya, mengenal lebih dekat tokoh-tokoh terkenal, mengenal lebih dalam makna pendidikan.

Dengan membaca saya pun bisa berimajinasi layaknya saya yang menjadi pemeran dalam buku yg saya baca. Juga, dengan membaca saya bisa mendapatkan dorongan bagaimana menjalani hidup dengan baik, bagaimana menjadi orang sukses. Dengan membaca saya pun bisa melihat kehidupan orang lain dan bisa belajar dari pengalaman orang tersebut.

Saat duduk di bangku sekolah, saya merasakan betapa besar manfaat yang diberikan dari kegemaran membaca. Ketika ujian tiba, saya bisa menjawab soal dengan baik dan mendapatkan nilai yang baik. Itu semua karena saya membaca sehingga saya tahu apa yang harus saya kerjakan.

Jadi saya ingin anak-anak di Papua pun gemar membaca. Dengan membaca, akan ada manfaat yang tak ternilai yang didapatkan.

Ayo buat langkah kecil, membantu Buku Untuk Papua mengumpulkan buku-buku bacaan untuk anak-anak Papua. Biarlah anak-anak Papua memiliki kesempatan mengetahui banyak hal yang perlu mereka ketahui.

Lenny Zilva

[1] Majalah Bobo adalah bacaan populer anak-anak Indonesia yang terbit sejak 14 April 1973. Majalah ini adalah versi Indonesia dari majalah serupa di Belanda dengan penyesuaian isi. Edisi bahasa Indonesia terbit sekali seminggu, diterbitkan oleh Kelompok Kompas Gramedia. Di Belanda sendiri, majalah Bobo diterbitkan bulanan oleh penerbit Malmberg.
Slogan majalah bobo adalah “Teman Bermain dan Belajar” mulai tahun 1995 hingga kini, karena memberi pendidikan melalui bacaan yang menarik bagi anak-anak sekaligus mengandung unsur permainan. Maskot Majalah Bobo adalah seekor kelinci berwarna biru bernama Bobo yang selalu mengenakan kaos berwarna merah berhuruf B dan celana biru, merupakan tokoh yang diadopsi dari majalah aslinya.
Bobo secara reguler membantu pembacanya belajar dengan menyediakan artikel berisi soal-soal pelajaran SD dari kelas satu sampai kelas enam. Pelajaran yang dimuat antara lain adalah matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kewarganegaraan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Bobo_%28majalah%29 )

Intinya aktivitas membaca itu ada faedahnya.

Image may contain: 1 person , text

 

Barangkali saya berbeda dengan mereka yang lain, entah berentah. Pasalnya saya bersentuhan dengan aktivitas membaca dan kemudian menyenangi aktivitas tersebut baru setelah pertengahan semester kedua, saat masih duduk dibangku sekolah menengah kejuruan. Ketika itu awal 2013. Karena kebetulan saat itu saya tinggal di kakak sepupu saya, yang adalah ketika itu dia anggota dewan redaksi di Koran Harian Pagi Papuapos Nabire, juga telah berlangganan dengan paper informatif tersebut, sehingga hal itu membuat saya semakin akrab dengan aktivitas membaca.

Buku yang lebih saya sukai sekaligus yang pertama kali saya pernah baca adalah buku dengan judul: “Melangkah ke Dunia Luas” (Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua), yang ditulis oleh Johanes Supriyono (2010). Dalam buku tersebut, oleh penulis, ditulis realitas proses hidup sehari-hari anak-anak Papua ketika itu, yang menyirat nilai-nilai tertentu sekaligus menyentuh perasaan batin setiap pembaca. Dan buku tersebutlah yang seakan menyulap saya menjadi sosok yang gemar membaca, meski kadang absen oleh kesibukan-kesibukan tertentu.
Saat itu kakak sepupu saya juga yang biasanya memetuahi saya tentang pentingnya membaca dan manfaat yang akan diperoleh jika kita menggemari aktivitas membaca. Bahkan dia pernah menyuruh sekaligus membantu saya menulis berita dan opini/artikel lalu pernah dimuat di Koran Harian Pagi Papuapos Nabire dan Majalah Selangkah Online yang (kini sudah tak lagi aktif). Tapi disitu dibutuhkan juga yang namanya tekad atau kebulatan hati dari diri pribadi.

Membaca itu aktivitas yang menyenangkan. Aktivitas membaca tidak dikekang oleh ruang dan waktu. Dimana pun, kapan pun kita bisa sempatkan diri untuk membaca. Misalnya saat menjelang sore dibawah rindangan pohon samping rumah, atau bagi mereka yang biasanya menjual pinang di pondok para-para pinang atau kios sembari menunggu datangnya pembeli, atau pun sambil baring-baring sembari menunggu mata terkatup tidur, dan pokoknya masih banyak lagi.

Dengan membaca kita bisa mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui. Dengan membaca kita bisa memahami sesuatu yang sebelumnya belum kita pahami. Dengan membaca dikemudian saat kita bisa menjadi informan yang dapat dipercaya. Dan masih banyak lagi. Intinya aktivitas membaca itu ada faedahnya.
Belakangan ini kecenderungan hati yang tinggi dari kita (Anak-anak Papua) untuk membaca masih terbilang sangat minim. Bahkan didapati ada sebagian mahasiswa Papua yang dikamarnya banyak buku bacaan, namun lantaran keringnya minat baca, akhirnya buku-buku yang dibeli dengan harga yang tak murah lazim jadi sarangnnya kakerlak atau lipas kudung.
Masih teringat segar apa yang pernah diutarakan oleh abang alm. Matheus Ch. Auwe, editor di majalahselangkah.com(semasa masih aktif), dalam sebuah diskusi “tukar pikiran”. Dikatakannya, guru atau dosen itu bukan hanya sosok yang berdiri depan ruang kelas, tapi guru juga bisa hadir dalam bentuk buku yang kita baca dan telaah. Dia juga menyayangkan sepak terjan kalangan mahasiswa yang menurut pengamatannya tampak jauh dari aktivitas “kutu buku”.
Bagi teman-teman dorang yang menggemari aktivitas membaca, semangat dan terus membaca. Semakin kita dekatkan diri dengan buku atau apapun yang kita baca, percayalah. Apa yang tersurat dan tersirat dalam apa yang kita baca pastilah tak jauh pula dari dalam ruang ingatan kita. Bukankah Tuhan pun akan memperhitungkan atas daya upaya kita? Sobat, mari tong lebih giat membaca!
* * *

Herman Degei, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, di Kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) – APMD, Yogyakarta.*

#bukuntukpapua #GemarMembaca #PapuaCerdas #anakpapuacerdas

Kita dituntut untuk memiliki wawasan yang luas. Dengan kebiasan gemar membaca semua itu dapat terwujud.

Image may contain: 1 person

 

Saya menyuka semua buku yang pernah dibaca karena sebelum membaca sebuah buku sampai tuntas tentunya diawali dengan rasa suka, dan Alkitab menjadi salah satu bacaan yang paling saya suka. Saya mulai gemar membaca sejak SMP terutama buku-buku berbahasa Inggris, fisika dan karya sastra seperti karya Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle yang menceritakan kisah-kisah detektif.

Kegemaran ini dimulai dengan rasa penasaran tentang apa isi buku tersebut, kemudian saya mulai menggali lebih dalam apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis melalui buku tersebut.

Beranjak ke SMA cukup banyak referensi untuk dibaca terutama karya-karya Sastra dan ilmu-ilmu social, antara lain Wonder karya Arthur Gordon, the Prophet karya Khalil Gibran, the Murder of Roger Acroyd, dan beberapa karya lainnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bagi saya setiap buku tersirat banyak kesan dan pesan yang bisa kita ambil. Kutipan favorit saya yakni:

“Nothing in life is more exciting and rewarding than the sudden flash of insight that leaves you a changed person, not only changed, but for the better”

Diambil dari salah satu karya Arthur Gordon yang berjudul Wonder. Kutipan ini menjadi dasar yang memotivasi untuk terus berupaya menjadi lebih baik karena setiap orang bisa berubah tapi tidak semua bisa berubah menjadi lebih baik oleh sebab itu dibutuhkan cara pandang dan tekad untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Saya berasal dari Biak, menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Biak kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Papua Manokwari jurusan Sastra Inggris. Saat ini saya bekerja di Jakarta sebagai staf Diplomat di Kementerian Luar Negeri. Sebagai seorang staf diplomat maka saya lebih banyak melakukan tugas kunjungan keluar negeri terkait dengan kepentingan Negara.
Sejak kuliah memang saya sudah terlibat di beberapa kegiatan social yang dilakukan di kampus dan saat ini sedang terlibat dalam sebuah Forum Komunikasi Alumni Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia dengan kegiatan yang ditujukan untuk membangun jaringan komunikasi dengan 658 teman-teman yang tersebar di 60 negara, selain itu juga aktif dalam Forum Alumni Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia.

Bagi saya Gerakan Anak Papua Gemar Membaca adalah langkah jenius, saya katakan jenius karena anak-anak Papua pada dasarnya memang jenius bila terus membiasakan diri dengan membaca dan focus pada apa yang disukai dan tekuni. Kita dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, dengan kebiasan gemar membaca semua itu dapat terwujud.
Mulailah membaca sejak dini, teruslah melangkah dan capai tujuanmu karena tidak ada yang dapat menghentikan langkah kita. Hanya ada satu orang yang mampu menghentikan langkah kita yaitu kita sendiri.

Alfons Sroyer, Saat ini bekerja sebagai Staf Diplomat Kementrian Luar Negeri RI di Jakarta. (EM)

#bukuntukpapua #GemarMembaca #anakpapuacerdas #PapuaCerdas