Seandainya ada perpustakaan daerah maka saya adalah pengunjung setianya.

Seandainya ada perpustakaan daerah maka saya adalah pengunjung setianya.

 

Jika ngidam sebuah buku,maka buku itu akan saya bawa kemanapun. Seperti kejadian beberapa waktu lalu, saya membaca buku di taksi, saking serunya sampai senyum-senyum sendiri. Saya yakin orang yang duduk di sebelah pasti mengganggap saya aneh, hehe. Ya begitulah kalau sudah “ngidam” buku. Di ruang guru pun sambil menunggu jam mengajar saya selalu usahakan membaca buku.

Seandainya di kota sorong ada perpustakaan daerah maka mungkin saya adalah pengunjung setianya. Seperti ketika dulu kuliah di Jayapura, perpustakaan daerah di Kotaraja menjadi tempat favorit. Setiap ada waktu luang, pasti berkunjung ke sana walau harus jalan kaki dari Padang Bulan ke Kotaraja. Ada banyak buku yang sedang menunggu antrian untuk saya, sekarang saya lagi membaca buku – buku teknis komputer tentang mengoperasikan MS Words dan Excel, juga buku – buku photoshop, karena saya suka mengedit – edit foto. Semua buku ini saya beli sendiri di Gramedia Sorong, cukup lumayan uang yang harus dikeluarkan, hampir Rp.800.000,-, ini seperti harta buat saya, buku – buku ini.

Waktu SD di tahun 90-an, ada sebuah toko buku di depan toko Hanseng HBM, kalau tidak salah ingat. Saya suka memaksa Bapa untuk menemani saya ke toko buku itu, dan buku – buku anak tetang puteri kerajaan yang suka saya beli, jadi senyum – senyum sendiri mengingat kembali hal ini. Dongeng paling saya sukai, karena sering didongengi Mamatua sebelum tidur. Beliau suka cerita tentang kisah puteri dan pangeran. Dan ini yang membuat saya jadi menyukai buku cerita anak dengan genre fantasi.

Penulis yang disukai ? wah, RL Stine, buku-buku ceritanya yang dengan tema misteri sangat menarik. Kalau membaca buku itu, saya baru beranjak kalau sudah selesai baca bukunya. Dia pandai membuat pembaca masuk ke dalam cerita, rasanya setiap usai membaca bukunya, saya merasa ada kepuasan batin tersendiri. Saya juga ingin sekali bisa bertemu Aprila Wayar, mengapa ? Karena dia adalah salah satu penulis perempuan Papua dan saya juga baru saja membaca novelnya yang berjudul “Dua Perempuan”, dengan Jayapura sebagai latar, tempat – tempat yang tidak asing untuk saya. Saya menunggu karya – karya Aprila selanjutnya. Bangga sekali ada penulis dari Papua dan semoga ke depannya, lahir penulis – penulis Papua berbakat lainnya.

Saya percaya membaca bisa mengubah orang. Kita dapat mempengaruhi orang lain tidak saja melalui kata-kata namun juga lewat tulisan kita. Orang yang membaca tulisan kita kan secara otomatis membaca opini kita atau pandangan kita tentang sesuatu. Saya ingat, ada satu buku yang saya baca yang berjudul “Mencintai Hidup” yang ditulis oleh Victoria Osteen. Buku ini saya baca berulang kali, karena pada awalnya saya tidak suka mendengar orang lain, saya lebih suka didengarkan. Dalam buku itu ada satu bagian yang mengatakan bahwa kita harus menjadi pendengar yang baik,mendengar bukan sekedar mendengar namun mendengar dengan perhatian. Karena itu adalah salah satu bentuk perhatian kita kepada orang-orang di sekeliling kita. Di tahun 2013, selepas membaca buku itu berulang kali, saya merasa diri ini menjadi sedikit berbeda, saya mulai berusaha mendengar dengan penuh perhatian apa yang disampaikan orang lain, dan menunjukkan kepedulian saya dengan bertanya tentang apa yang menjadi cita-cita atau impian seseorang serta langkah-langkah apa saja yang ditempuh untuk mencapai mimpinya itu.

Agar suka membaca, saya sendiri berusaha menemukan gairah akan buku tersebut, sehingga buku itu membuat saya ingin membacanya, yang kedua sisihkan uang untuk membeli buku dan yang ketiga buat target membaca buku, sisihkan waktu untuk melakukannya. Saya sendiri merasa wajib tiap bulan saya harus baca 1 buku biografi dan buku rohani.

**

Tentang Siska Safisa
Lulusan Universitas Cenderawasih dengan jurusan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini lahir di Jayapura. Saat ini bekerja sebagai tenaga pendidik di SMP Negeri Satap Malagubtuk Distrik Klayili Kabupaten Sorong. Selain mengajar secara formal di Sekolah, ia juga mendirikan dan mengelola rumah baca yang ia namakan ‘Rumah Gaba” yang berada di kampung Malagubtuk. Keseharian selain mengajar di sekolah, ia disibukkan mengajar anak-anak usia 5- 8 tahun di rumah baca yang berlangsung dari hari Senin hingga Kamis pukul 18.00 -20.00 WIT.

Kunjungi Rumah Gaba di sini https://www.facebook.com/rumah.gaba dan ini https://www.instagram.com/rumahgaba/

GemarMembaca72

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s