Pertama kali membaca buku sejak SD

Image may contain: 1 person , text

Ada beberapa buku yang paling saya suka yaitu 101 Hal-Hal Yang Harus Diketahui Para Pemimpin (John C. Maxwell), Ajaib dimata Kita (Dr.F.C.Kamma), 7 Rahasia Spiritual Menuju Sukses (Dr.Norman V. Peale). Saya tertarik membaca buku-buku ini karena banyak hal kepemimpinan yang dipelajari saat membaca. Sangat membangun dan banyak memberi motivasi dalam menjalani masa muda, sehingga tidak hanya sukses dalam studi tapi karir kedepan. Selain Itu buku Dari F.C.Kamma juga membuka wawasan tentang banyak hal di waktu lampau. Khususnya tentang Papua, dan waktu pertama kali injil masuk ke tanah Papua.

Pertama kali membaca buku sejak SD dan yang memberi pengaruh itu Bapak saya karena beliau juga gemar membaca & punya semacam perpustakaan pribadi di rumah. Setiap orang harus dibiasakan untuk membaca, mulai dari masa kanak-kanak. Jadi kalo Anak Papua gemar membaca itu akan berdampak sangat baik bagi masa depan. Bukan cuma anak itu sendiri tapi juga bagi bangsa Papua. Kalo menurut saya, saat ini anak Papua masih belum banyak yang gemar membaca. Kalaupun ada yang gemar sekali membaca, bisa dibilang perbandingannya 1 Dari 1000 orang. Hal ini yang menyebabkan SDM di Papua maasih sangat rendah. Gemar membaca tidak bisa di mulai dengan sendirinya, karena itu kita biasakan generasi anak Papua untuk membaca. Dengan membaca banyak hal yang bisa kita dapatkan, wawasan kita bisa menjadi luas dan banyak masalah yang mungkin dapat kita pecahkan sendiri melalui membaca.
Nama saya Fabiola Griffith Fegrisa Saroy. Saya putri asli Papua, dari pulau Moor.
Banyak orang belum tau pasti letak pulau ini, pulau moor di tempuh dari kota Nabire sekitar 2/3jam menggunakan motor laut. (Speedboat). saya lulusan Jinan University Guangzhou-China.

Membaca adalah Sebuah Petualangan Ajaib

Image may contain: 1 person , mountain, outdoor and nature

Pengalaman berkesan tentang membaca? rasanya untuk menjawabnya saja terlalu berkesan sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas, ada perasaan lain saat membaca, seperti ditarik masuk ke dalam buku yang sedang dibaca : ajaib.

Jika bercerita tentang buku favorit, maka buku itu adalah Ayat-Ayat Cinta [1]. Ini novel pertama yang pernah saya baca. Waktu itu saya masih SMP kelas 1, yang begitu tiba di rumah dari sekolah, makan siang dan segera setelah makan saya langsung baca buku novel itu, alhasil saya selalu dimarahi Mama, karena sebenarnya ada pekerjaan rumah yang harus saya kerjakan eh malah saya habiskan dengan membaca hehe, ini jangan ditiru ya soalnya kita seharusnya bisa membagi waktu dengan pekerjaan lain apalagi kalau piring kotor lagi menumpuk.

Selain Ayat-Ayat Cinta, saya juga mengagumi karya-karya Andrea Hirata [2]. Saya bahkan tidak pernah melewatkan satu karyanya pun, mulai dari triologi Laskar Pelangi sampai dengan buku terbarunya yang berjudul Ayah. Sekarang saya sedang tertarik dengan buku/novel berlatar belakang sejarah seperti Amba [3], Pulang karya Leila S. Chudori [4] dan Cerita dari Digul. Kebetulan saya kurang suka dan kurang pandai menghafal tanggal dari cerita – cerita sejarah, nah lewat buku-buku berlatar belakang sejarah inilah saya lebih mudah belajar dan tahu peristiwa-peristiwa sejarah lengkap dengan “bumbu-bumbu” dari penulisnya. Kalau bicara buku favorit banyak mungkin dan akan semakin panjang ceritanya, jadi sekian dulu cerita soal buku favorit hehe.

Sejujurnya saya tidak ada darah atau keturunan Papua, selain yang saya tahu adalah nenek moyang saya orang Papua asli berasal dari kampung Arguni yang nikah dengan orang Maluku. Selain itu, saya sendiri lahir dari Ibu berdarah Jawa, dan Ayah yang berdarah Maluku. Selain itu, saya lahir dan besar di Kaimana, Papua Barat. Hal inilah yang sampai saat ini membuat saya merasa sebagai orang Papua, meskipun kalau ketemu dan melihat saya secara langsung, orang tidak pernah terpikir akan hal ini.

Sekarang saya kuliah di Yogyakarta, dan sambil kuliah saya dan beberapa teman membuat inisiatif bernama Papua Bercerita. Jadi mendokumentasikan cerita orang – orang Papua dan membagikan ceritanya melalui media sosial @PapuaBercerita. Tahun kemarin, kami sudah melakukan donasi buku untuk salah satu rumah belajar di Kaimana. Kami juga mengajar di salah satu SD disana, dan juga mengajar bahasa inggris (bimbel) di luar sekolah pada sore hari. Seperti inilah garis besar project sosial ini, yang akan berlanjut untuk ke depannya.

Pendapat saya tentang anak Papua yang gemar membaca: keren sekali, two thumbs up!! Menurut saya, anak Papua sudah seharusnya memang gemar membaca biar kita tidak tertinggal dengan anak-anak yang ada di kota besar. Supaya tidak ada lagi orang yang memandang sebelah mata kepada anak-anak Papua. Buktikan bahwa anak-anak Papua itu cerdas dan tidak kalah dengan anak-anak lain. Satu hal yang perlu diingat, bahkan anak-anak di kota besar pun tidak semuanya gemar membaca. Jadi, tidak ada kesimpulan bahwa anak-anak kota lebih bisa.

Dwi Fajar Suharjuly*

*Mahasiswi semester akhir pada jurusan Akuntansi S1 di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Selain belajar di kampus juga menginisiasi dan menjalankan project sosial “Papua Bercerita” sejak Februari 2015. Di project ini, Fajar dan seorang rekannya bernama Farah Amalia aktif mewawancara orang-orang Papua dan kemudian membagikan cerita mereka di facebook dan instagram @papuabercerita.

[1] Ayat Ayat Cinta adalah novel berbahasa Indonesia karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali pada tahun2004 melalui penerbit Basmala dan Republika. Novel ini berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi terlaris diIndonesia yang dicetak sampai dengan 160 ribu eksemplar hanya dalam jangka waktu tiga tahunhttps://id.wikipedia.org/wiki/Ayat-Ayat_Cinta

[2] Andrea Hirata adalah lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang kini masih bekerja di kantor pusat PT Telkom ini mendapat beasiswa Uni Eropa untuk studi Master of Science di Université de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi yang meledak penjualannya di Indonesia mengantarkannya mendapat penghargaan antara lain dari Khatulistiwa Literaly Award (KLA) pada tahun 2007, Aisyiyah Award, Paramadina Award, Netpac Critics Award, dan lain sebagainya. http://profil.merdeka.com/indonesia/a/andrea-hirata/

[3] Amba adalah novel karya Laksmi Pamunjak yang berkisah tentang masa kelam Indonesia tahun 1965, novel yang tidak berpretensi mengoreksi sejarah tetapi hanya ingin mencipta ulang sejarah dengan huruf s kecil, tentang kisah-kisah manusia biasa yang tidak tercatat. Tentang mereka yang tidak terlibat, tapi hidupnya berubah dilimbur arus sejarah. Novel ini mengantarkannya menjadi salah satu penulis yang ikut serta pada Franfurt Book Festival di Jerman dan diterjemahkan ke Bahasa Inggris, Belanda dan Jerman http://www.dw.com/…/manusia-dalam-kemelut-sejara…/a-16601193

[4] Leila Salikha Chudori adalah penulis Indonesia yang menghasilkan berbagai karya cerita pendek, novel, dan skenario drama televisi.Leila S. Chudori bercerita tentang kejujuran, keyakinan, dan tekad, prinsip dan pengorbanan. Mendapat pengaruh dari bacaan-bacaan dari buku-buku yang disebutnya dalam cerpen-cerpennya yang kita ketahui dari riwayat hidupnya ialah Franz Kafka, pengarang Jerman yang mempertanyakan eksistensi manusia, Dostoyewsky pengarang klasik Rusia yang menggerek jauk ke dalam jiwa manusia. D.H Lawrence pengarang Inggris yang memperjuangkan kebebasan mutlak nurani manusia, pengarang Irlandia James Joyce, yang terkenal dengan romannya Ullysseshttp://www.goodreads.com/author/show/760524.Leila_S_Chudori

[5] Pulang adalah cerita tentang eksil yang tidak bisa kembali ke negerinya, menjadi orang bebas tanpa tanah pijakan. Lalu harus bertahan hidup di negeri sebrang sembari terus dihantui perasaan bersalah karena banyak kawan di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September.http://www.goodreads.com/book/show/16174176-pulang

#bukuntukpapua #GemarMembaca

Membaca dan berimajinasi

Image may contain: 1 person , people smiling , text, outdoor and nature

Nama saya Lenny Zilfa. Umur saya saat ini 23 tahun. Saya lahir dan besar di Jayapura, Papua. Saya sekolah mulai dari TK hingga perguruan tinggi di Jayapura. Latar belakang pendidikan perguruan tinggi saya adalah pendidikan bahasa Inggris. Saya sangat menyukai bahasa Inggris sejak SD. Saya pun gemar membaca buku berbahasa Inggris. Saya bercita cita melanjutkan S2 saya di luar negeri.

Kegemaran saya membaca buku sebenarnya dimulai bukan dengan buku bahasa Inggris. Saya mulai gemar membaca melalui sebuah majalah anak, majalah Bobo [1].

Waktu duduk di bangku SD, saya rutin memeriksa kesehatan saya di salah satu rumah sakit pemerintah di Jayapura. Karena rasa bosan menunggu pemeriksaan, saya suka membeli majalah bobo untuk dibaca. Majalah Bobo bukan hanya sekedar memberi cerita tapi ada pengetahuan umumnya juga. Saat itulah saya mulai gemar membaca.

Selain suka membaca buku berbahasa Inggris, saya juga suka membaca buku bahasa asing lainnya, buku cerita kisah nyata, motivasi, religi, biografi, novel, tentang pendidikan, dll.

Banyak manfaat yang saya dapatkan. Saya bisa mengenal bahasa asing baik bahasa Inggris maupun lainnya, mengenal lebih dekat tokoh-tokoh terkenal, mengenal lebih dalam makna pendidikan.

Dengan membaca saya pun bisa berimajinasi layaknya saya yang menjadi pemeran dalam buku yg saya baca. Juga, dengan membaca saya bisa mendapatkan dorongan bagaimana menjalani hidup dengan baik, bagaimana menjadi orang sukses. Dengan membaca saya pun bisa melihat kehidupan orang lain dan bisa belajar dari pengalaman orang tersebut.

Saat duduk di bangku sekolah, saya merasakan betapa besar manfaat yang diberikan dari kegemaran membaca. Ketika ujian tiba, saya bisa menjawab soal dengan baik dan mendapatkan nilai yang baik. Itu semua karena saya membaca sehingga saya tahu apa yang harus saya kerjakan.

Jadi saya ingin anak-anak di Papua pun gemar membaca. Dengan membaca, akan ada manfaat yang tak ternilai yang didapatkan.

Ayo buat langkah kecil, membantu Buku Untuk Papua mengumpulkan buku-buku bacaan untuk anak-anak Papua. Biarlah anak-anak Papua memiliki kesempatan mengetahui banyak hal yang perlu mereka ketahui.

Lenny Zilva

[1] Majalah Bobo adalah bacaan populer anak-anak Indonesia yang terbit sejak 14 April 1973. Majalah ini adalah versi Indonesia dari majalah serupa di Belanda dengan penyesuaian isi. Edisi bahasa Indonesia terbit sekali seminggu, diterbitkan oleh Kelompok Kompas Gramedia. Di Belanda sendiri, majalah Bobo diterbitkan bulanan oleh penerbit Malmberg.
Slogan majalah bobo adalah “Teman Bermain dan Belajar” mulai tahun 1995 hingga kini, karena memberi pendidikan melalui bacaan yang menarik bagi anak-anak sekaligus mengandung unsur permainan. Maskot Majalah Bobo adalah seekor kelinci berwarna biru bernama Bobo yang selalu mengenakan kaos berwarna merah berhuruf B dan celana biru, merupakan tokoh yang diadopsi dari majalah aslinya.
Bobo secara reguler membantu pembacanya belajar dengan menyediakan artikel berisi soal-soal pelajaran SD dari kelas satu sampai kelas enam. Pelajaran yang dimuat antara lain adalah matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Kewarganegaraan. (https://id.wikipedia.org/wiki/Bobo_%28majalah%29 )

Intinya aktivitas membaca itu ada faedahnya.

Image may contain: 1 person , text

 

Barangkali saya berbeda dengan mereka yang lain, entah berentah. Pasalnya saya bersentuhan dengan aktivitas membaca dan kemudian menyenangi aktivitas tersebut baru setelah pertengahan semester kedua, saat masih duduk dibangku sekolah menengah kejuruan. Ketika itu awal 2013. Karena kebetulan saat itu saya tinggal di kakak sepupu saya, yang adalah ketika itu dia anggota dewan redaksi di Koran Harian Pagi Papuapos Nabire, juga telah berlangganan dengan paper informatif tersebut, sehingga hal itu membuat saya semakin akrab dengan aktivitas membaca.

Buku yang lebih saya sukai sekaligus yang pertama kali saya pernah baca adalah buku dengan judul: “Melangkah ke Dunia Luas” (Impian dan Pergulatan Anak-anak Papua), yang ditulis oleh Johanes Supriyono (2010). Dalam buku tersebut, oleh penulis, ditulis realitas proses hidup sehari-hari anak-anak Papua ketika itu, yang menyirat nilai-nilai tertentu sekaligus menyentuh perasaan batin setiap pembaca. Dan buku tersebutlah yang seakan menyulap saya menjadi sosok yang gemar membaca, meski kadang absen oleh kesibukan-kesibukan tertentu.
Saat itu kakak sepupu saya juga yang biasanya memetuahi saya tentang pentingnya membaca dan manfaat yang akan diperoleh jika kita menggemari aktivitas membaca. Bahkan dia pernah menyuruh sekaligus membantu saya menulis berita dan opini/artikel lalu pernah dimuat di Koran Harian Pagi Papuapos Nabire dan Majalah Selangkah Online yang (kini sudah tak lagi aktif). Tapi disitu dibutuhkan juga yang namanya tekad atau kebulatan hati dari diri pribadi.

Membaca itu aktivitas yang menyenangkan. Aktivitas membaca tidak dikekang oleh ruang dan waktu. Dimana pun, kapan pun kita bisa sempatkan diri untuk membaca. Misalnya saat menjelang sore dibawah rindangan pohon samping rumah, atau bagi mereka yang biasanya menjual pinang di pondok para-para pinang atau kios sembari menunggu datangnya pembeli, atau pun sambil baring-baring sembari menunggu mata terkatup tidur, dan pokoknya masih banyak lagi.

Dengan membaca kita bisa mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui. Dengan membaca kita bisa memahami sesuatu yang sebelumnya belum kita pahami. Dengan membaca dikemudian saat kita bisa menjadi informan yang dapat dipercaya. Dan masih banyak lagi. Intinya aktivitas membaca itu ada faedahnya.
Belakangan ini kecenderungan hati yang tinggi dari kita (Anak-anak Papua) untuk membaca masih terbilang sangat minim. Bahkan didapati ada sebagian mahasiswa Papua yang dikamarnya banyak buku bacaan, namun lantaran keringnya minat baca, akhirnya buku-buku yang dibeli dengan harga yang tak murah lazim jadi sarangnnya kakerlak atau lipas kudung.
Masih teringat segar apa yang pernah diutarakan oleh abang alm. Matheus Ch. Auwe, editor di majalahselangkah.com(semasa masih aktif), dalam sebuah diskusi “tukar pikiran”. Dikatakannya, guru atau dosen itu bukan hanya sosok yang berdiri depan ruang kelas, tapi guru juga bisa hadir dalam bentuk buku yang kita baca dan telaah. Dia juga menyayangkan sepak terjan kalangan mahasiswa yang menurut pengamatannya tampak jauh dari aktivitas “kutu buku”.
Bagi teman-teman dorang yang menggemari aktivitas membaca, semangat dan terus membaca. Semakin kita dekatkan diri dengan buku atau apapun yang kita baca, percayalah. Apa yang tersurat dan tersirat dalam apa yang kita baca pastilah tak jauh pula dari dalam ruang ingatan kita. Bukankah Tuhan pun akan memperhitungkan atas daya upaya kita? Sobat, mari tong lebih giat membaca!
* * *

Herman Degei, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, di Kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) – APMD, Yogyakarta.*

#bukuntukpapua #GemarMembaca #PapuaCerdas #anakpapuacerdas

Kita dituntut untuk memiliki wawasan yang luas. Dengan kebiasan gemar membaca semua itu dapat terwujud.

Image may contain: 1 person

 

Saya menyuka semua buku yang pernah dibaca karena sebelum membaca sebuah buku sampai tuntas tentunya diawali dengan rasa suka, dan Alkitab menjadi salah satu bacaan yang paling saya suka. Saya mulai gemar membaca sejak SMP terutama buku-buku berbahasa Inggris, fisika dan karya sastra seperti karya Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle yang menceritakan kisah-kisah detektif.

Kegemaran ini dimulai dengan rasa penasaran tentang apa isi buku tersebut, kemudian saya mulai menggali lebih dalam apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis melalui buku tersebut.

Beranjak ke SMA cukup banyak referensi untuk dibaca terutama karya-karya Sastra dan ilmu-ilmu social, antara lain Wonder karya Arthur Gordon, the Prophet karya Khalil Gibran, the Murder of Roger Acroyd, dan beberapa karya lainnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bagi saya setiap buku tersirat banyak kesan dan pesan yang bisa kita ambil. Kutipan favorit saya yakni:

“Nothing in life is more exciting and rewarding than the sudden flash of insight that leaves you a changed person, not only changed, but for the better”

Diambil dari salah satu karya Arthur Gordon yang berjudul Wonder. Kutipan ini menjadi dasar yang memotivasi untuk terus berupaya menjadi lebih baik karena setiap orang bisa berubah tapi tidak semua bisa berubah menjadi lebih baik oleh sebab itu dibutuhkan cara pandang dan tekad untuk berproses menjadi pribadi yang lebih baik tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.

Saya berasal dari Biak, menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Biak kemudian melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Papua Manokwari jurusan Sastra Inggris. Saat ini saya bekerja di Jakarta sebagai staf Diplomat di Kementerian Luar Negeri. Sebagai seorang staf diplomat maka saya lebih banyak melakukan tugas kunjungan keluar negeri terkait dengan kepentingan Negara.
Sejak kuliah memang saya sudah terlibat di beberapa kegiatan social yang dilakukan di kampus dan saat ini sedang terlibat dalam sebuah Forum Komunikasi Alumni Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia dengan kegiatan yang ditujukan untuk membangun jaringan komunikasi dengan 658 teman-teman yang tersebar di 60 negara, selain itu juga aktif dalam Forum Alumni Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia.

Bagi saya Gerakan Anak Papua Gemar Membaca adalah langkah jenius, saya katakan jenius karena anak-anak Papua pada dasarnya memang jenius bila terus membiasakan diri dengan membaca dan focus pada apa yang disukai dan tekuni. Kita dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, dengan kebiasan gemar membaca semua itu dapat terwujud.
Mulailah membaca sejak dini, teruslah melangkah dan capai tujuanmu karena tidak ada yang dapat menghentikan langkah kita. Hanya ada satu orang yang mampu menghentikan langkah kita yaitu kita sendiri.

Alfons Sroyer, Saat ini bekerja sebagai Staf Diplomat Kementrian Luar Negeri RI di Jakarta. (EM)

#bukuntukpapua #GemarMembaca #anakpapuacerdas #PapuaCerdas